News


Daftar Mahasiswa Bimbingan, PA dan PKL

diposting pada tanggal 25 Feb 2015 07.36 oleh Arini UIN Jakarta   [ diperbarui5 Sep 2015 23.44 ]

Tahun 2014
Cek di Portal TI



Tahun 2015
Cek di Portal TI

Amanah

diposting pada tanggal 28 Okt 2014 23.45 oleh Arini UIN Jakarta   [ diperbarui25 Feb 2015 18.07 ]

Apa itu Amanah dalam Islam?
Majalah Muslim - Kita sering mendengar kata amanah ini diucapkan dalam kehidupan, misalnya ketika mengangkat seseorang untuk menduduki suatu posisi yang diamanahkan kepadanya. Walaupun banyak dari mereka ketika menerima suatu jabatan, merasa bahagia dan bangga sehingga mereka berani disumpah saat menerima amanah tersebut.

Entah mereka tidak sadar atau memang tidak peduli, sebenarnya mereka telah mengikat diri mereka dalam ikatan janji dengan Allah subhanahu wata’ala saat menerima amanah tersebut, karena amanah yang mereka terima akan dimintai pertanggung jawaban diakhirat kelak.

Dalam bahasa Arab, kata amanah dapat diartikan sebagai titipan, kewajiban, ketenangan, kepercayaan, kejujuran dan kesetiaan. Dari pengertian bahasa dan dari pemahaman tematik al-Qur’an dan hadits, amanah dapat difahami sebagai sikap mental yang di dalamnya terkandung unsur kepatuhan kepada hukum, tanggung jawab kepada tugas, kesetiaan kepada komitmen, keteguhan dalam memegang janji.

Dalam perspektif agama Islam, amanah memiliki makna dan kandungan yang luas, di mana seluruh makna dan kandungan tersebut bermuara pada satu pengertian bahwa setiap orang merasakan bahwa Allah subhanahu wata’ala senantiasa menyertainya dalam setiap urusan yang diberikan kepadanya, dan setiap orang memahami dengan penuh keyakinan bahwa kelak ia akan dimintakan pertanggung jawaban atas urusan tersebut.

Dalam Islam, amanah ada pada setiap orang. Setiap orang memiliki amanah sesuai dengan apa yang dibebankan kepadanya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan masing-masing kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang imam adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang pembantu adalah pemimpin dalam memelihara harta tuannya dan ia akan ditanya pula tentang kepemimpinannya”. (HR Imam Bukhari).

Bagi seorang muslim, amanah adalah sebuah kewajiban yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Rasulullah mengajarkan seorang muslim untuk saling mewasiati dan memohon bantuan kepada Allah subhanahu wata’ala dalam menjaganya, bahkan ketika seseorang hendak bepergian sekalipun setiap saudaranya seharusnya mendoakannya : “Aku memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar Ia terus menjaga agama engkau, amanah dan akhir amalan engkau”. (HR Imam Tirmidzi).

Allah memerintahkan seorang muslim untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya. Menjadikan seorang muslim untuk turut serta ambil bagian dalam upaya-upaya penyampaian amanat kepada yang berhak ini.

Allah berfirman :

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS An Nisaa’ 4 : 58)

Untuk menentukan siapa orang yang berhak dan sanggup menerima suatu amanah, kita diberikan perdoman oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Orang tersebut haruslah kompeten.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya”. Sahabat bertanya, “ Bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?”. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya” (HR Bukhari dan Muslim).

Kompetensi ini hendaknya bersifat menyeluruh, jadi bukan hanya sekedar keahlian dibidang yang akan dibebankan kepadanya, tapi juga mencakup kedekatannya dengan Allah dan baiknya sifat yang dimilikinya. Kompetensi inilah yang dipunyai oleh Nabi Yusuf AS, seorang Nabi yang sangat dekat kepada Allah, bersifat amanah, dan memiliki keahlian di bidangnya.

Hal ini diabadikan dalam Al Quran :

Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (QS Yusuf 12 : 55)

Kompetensi menyeluruh inilah yang harus dikedepankan. Kita tidak boleh memilih pemimpin karena pertimbangan hawa nafsu dan kekerabatan (nepotisme). Jika hawa nafsu dan kekerabatan yang dikedepankan, maka kita telah melakukan sebuah pengkhianatan yang besar. Khianat kepada Allah, Rasul dan orang-orang beriman.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menegaskan : “Barang siapa mengangkat seseorang berdasarakan kesukuan atau fanatisme, sementara di sampingnya ada orang lain yang lebih disukai Allah dari padanya, maka ia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman”, (HR Imam Al-Hakim)

Beratnya tanggung jawab yang mengintai bagi seseorang yang dibebani amanah, tidak serta merta membuat orang tersebut boleh lari dari kewajiban menunaikan amanah. Jika amanah dipercayakan kepadanya karena kompetensinya, maka ia wajib menunaikannya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang diserahi kekuasaan urusan manusia lalu menghindar (mengelak) melayani kaum lemah dan orang-orang yang membutuhkannya, maka Allah tidak akan mengindahkannya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Orang yang diserahi amanah ini, akan mendapatkan kebaikan yang banyak jika menunaikan amanah pun akan mendapatkan keburukan yang banyak jika amanah ini di khianati. Seorang mukmin menyadari hal ini, karenanya ia akan menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya. Karena Allah berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS Al Anfaal 8 : 27)

Pentingnya penunaian amanah dalam Islam, hingga dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal, sahabat Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah tidak pernah berkhutbah untuk para sahabat kecuali beliau bersabda : “Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak pandai memeliharanya”.

Wallahu a’lam bishshawab …

http://majalahmuslim.blogspot.com/2011/12/apa-itu-amanah-dalam-islam.html

Mengatasi Hater....

diposting pada tanggal 28 Okt 2014 23.22 oleh Arini UIN Jakarta   [ diperbarui25 Feb 2015 18.17 ]

Tak mungkin mengharapkan semua orang menyukai Anda karena kita hidup diantara jutaan manusia lainnya yang karakternya berbeda-beda. Di era internet ini cara menunjukkan sikap jadi serba mudah. Berikut adalaj jenis-jenis “hater” dan cara mengatasinya.

1. Tipe sinis
Orang ini rajin sekali mengempeskan balon-balon kebahagian yang baru saja Anda terbangkan dengan komentarnya. Orang seperti ini biasanya merasa bijaksana dan lucu, padahal tidak sama sekali.
Tips: balas dia dengan kebaikan dan acuhkan bila tak kenal.
2. Tipe monster mata hijau
Mungkin ibu Anda pernah menghibur dengan dengan mengatakan orang yang tak suka dengan adalah mereka yang iri. Itu benar. Biasanya mereka merasa tidak aman karena posisinya terancam oleh Anda.
Tips: dekati dan minta tolonglah kepadanya. Mungkin insting Anda berkata sebaliknya, tapi percayalah dengan cara demikian maka ketakutan orang tersebut akan hilang dan menganggap Anda bukan musuh yang perlu disingkirkan.
3. Tukang Menyindir
Tipe ini agak mirip dengan si sinis, bedanya, penyindir ini menganggap dirinya superior dan mudah sekali tersinggung. Mereka begitu karena bosan. 
Tips: jangan terpancing sindirannya karena itulah yang dia mau untuk memulai perang.
4. Tukang Ledek
Tipe ini merupakan perpaduan antara ketiga tipe di atas. Mereka biasanya muncul tanpa nama dan membuat tanggapan yang mengejek dan melecehkan.
Tips: Acuhkan. Tak usah repot-repot membela diri atau menanggapi karena mereka justru akan meledek Anda habis-habisan.

Kesimpulannya, sebaik atau seburuk apa pun yang Anda lakukan, pasti ada yang mencibir atau mendukung Anda. Tak usah sedih, memang begitulah manusia.

Sumber:
http://www.dailyworth.com/posts/2914-how-to-deal-with-haters-online-trolls-rude-people

http://www.vemale.com/inspiring/people-we-love/79141-tipe-tipe-hater-di-internet-dan-cara-mengatasinya.html

1-3 of 3